Skip to content
[ root@retasan:~# Friday, Jul 17, 2026 ]

> Retasan.id_

// Portal Berita Keamanan Siber Terkini

  • Kebijakan & Privasi
  • Kontak Retasan.id
  • Tentang Retasan.
Exploit Development Malware Kebijakan Keamanan Cyberwarfare Tools Data Breach Video Iklan Catatan Pribadi
Kebijakan Keamanan

Windows Server 2022 akan Berakhir Dukungan Utama dalam 90 Hari ke Depan

// by retasan-news July 17, 2026 3 min read
Windows Server 2022 End of Mainstream Support

Microsoft mengingatkan seluruh organisasi bahwa Windows Server 2022 akan mencapai end of mainstream support pada 13 Oktober 2026 — hanya 90 hari lagi. Setelah tanggal tersebut, Windows Server 2022 akan beralih ke extended support hingga 14 Oktober 2031, di mana hanya security-only updates yang akan tersedia tanpa fitur baru atau perubahan non-keamanan.

APA YANG TERJADI?

Windows Server 2022 akan kehilangan mainstream support pada 13 Oktober 2026. Artinya, Microsoft tidak akan lagi merilis fitur baru, non-security bug fixes, atau perubahan desain setelah tanggal tersebut. Extended support akan berlanjut hingga 14 Oktober 2031, namun hanya mencakup security-only updates. Microsoft sangat menyarankan organisasi untuk beralih ke Windows Server 2025 yang menawarkan LTSC (Long-Term Servicing Channel) dengan dukungan hingga 14 November 2034.

DETAIL TEKNIS

Windows Server 2025 dirilis secara general availability (GA) pada November 2024 dengan model LTSC yang menjamin dukungan selama 10 tahun. Versi ini menawarkan peningkatan termasuk Azure Arc integration, enhanced security features, dan dukungan hybrid cloud. Microsoft juga menyediakan free trial 180 hari melalui Microsoft Evaluation Center.

Untuk organisasi yang belum siap beralih, hotpatching akan diperpanjang untuk Windows Server 2022 Datacenter: Azure Edition hingga Oktober 2027. Hotpatching memungkinkan penerapan patch keamanan tanpa restart server, yang sangat kritis bagi lingkungan produksi yang memerlukan uptime tinggi.

DAMPAK TERHADAP INDONESIA

Banyak organisasi Indonesia, terutama instansi pemerintah dan BUMN, masih menjalankan Windows Server 2022 di infrastructure on-premise. Migrasi ke Windows Server 2025 memerlukan perencanaan matang termasuk evaluasi kompatibilitas aplikasi, pelatihan tim IT, dan anggaran lisensi baru. Dalam konteks SKKNI Siber, keamanan server yang tidak lagi menerima security updates secara regular menjadi risiko kepatuhan serius.

Indonesia memiliki tingkat adopsi cloud yang masih berkembang, sehingga banyak server Windows berjalan on-premise tanpa akses ke hotpatching Azure. PDP Law juga menuntut bahwa sistem yang memproses data pribadi harus memiliki tingkat keamanan yang memadai, termasuk patches keamanan yang terkini. Kementerian Kominfo dan BSSN perlu mengeluarkan guidance terkait timeline migrasi untuk instansi pemerintah.

REKOMENDASI MITIGASI

1. Mulai perencanaan migrasi ke Windows Server 2025 sekarang. 2. Gunakan free trial 180 hari untuk evaluasi kompatibilitas. 3. Inventory seluruh server Windows Server 2022 dan kategorisasikan berdasarkan kritisitas. 4. Untuk server yang belum bisa dimigrasikan, rencanakan maintenance window untuk security updates. 5. Evaluasi opsi Azure hybrid untuk hotpatching. 6. Latih tim IT pada fitur dan perubahan di Windows Server 2025.

Analisa Retasan

End of mainstream support untuk Windows Server 2022 bukan sekadar peristiwa rutin dari siklus lifecycle Microsoft — ini adalah pengingat bahwa setiap teknologi memiliki batas waktu keamanannya. Ketika operating system kehilangan mainstream support, setiap vulnerability baru yang ditemukan di luar domain keamanan tidak akan mendapat perbaikan. Meskipun extended support masih menyediakan security patches, cakupannya lebih sempit. Dalam lanskap ancaman saat ini di mana zero-day exploitation terjadi dalam hitungan hari, gap ini bisa menjadi celah kritis.

Perbandingan dengan end of support Windows Server 2016 menunjukkan pola yang menarik: banyak organisasi menunda migrasi hingga mendekati batas waktu. Windows Server 2025 dengan LTSC-nya menawarkan jaminan dukungan hingga 2034, namun pertanyaannya adalah berapa banyak organisasi Indonesia yang sudah mulai perencanaan migrasinya. Data menunjukkan rata-rata waktu migrasi server enterprise adalah 12-18 bulan, yang berarti organisasi yang belum memulai sekarang sudah berada dalam risiko tertinggal.

Dari perspektif Indonesia, end of support ini memiliki implikasi kepatuhan yang signifikan. PDP Law mengharuskan organisasi yang memproses data pribadi untuk menerapkan langkah keamanan yang memadai — menjalankan server yang kehilangan dukungan vendor dapat dianggap sebagai kegagalan memenuhi standar keamanan yang wajar. BSSN perlu mengeluarkan advisori khusus untuk instansi pemeruntah dengan timeline migrasi yang jelas, serta panduan teknis untuk assessment kesiapan migrasi ke Windows Server 2025.

Sumber: BleepingComputer — Windows Server 2022 Reach End of Mainstream Support in 90 Days

Tags: End of Support LTSC Microsoft Windows Server 2022 Windows Server 2025
Share:

retasan-news

← Previous Menakar Resiliensi Siber Indonesia: Analisis Teknis dan Strategis
Next → Waspada Celah Keamanan 'Januscape': Ancaman Serius bagi Pengguna Layanan Cloud dan Virtual Machine

Artikel Terkait

Ancaman Nyata AI adalah Kepercayaan Buta: Ketika Input Musuh Menjadi Instruksi Sah

Ancaman Nyata AI adalah Kepercayaan Buta: Ketika Input Musuh Menjadi Instruksi Sah

July 17, 2026
Google Bertaruh pada Strategi Agentic Defense untuk Mengalahkan Penyerang AI

Google Bertaruh pada Strategi Agentic Defense untuk Mengalahkan Penyerang AI

July 17, 2026
Microsoft Rilis Patch Tuesday Rekor 622 Bug, Termasuk 3 Zero-Day dan Kerentanan Kritis AI

Microsoft Rilis Patch Tuesday Rekor 622 Bug, Termasuk 3 Zero-Day dan Kerentanan Kritis AI

July 17, 2026

> leave_comment_

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2026 Retasan | retasan.my.id

  • Kebijakan & Privasi
  • Kontak Retasan.id
  • Tentang Retasan.