Skip to content
[ root@retasan:~# Friday, Aug 28, 2026 ]

> Retasan.id_

// Portal Berita Keamanan Siber Terkini

  • Kebijakan & Privasi
  • Kontak Retasan.id
  • Tentang Retasan.
Exploit Development Malware Kebijakan Keamanan Cyberwarfare Tools Data Breach Video Catatan Pribadi Iklan Tutorial
Kebijakan Keamanan

Di Dalam Jaringan Online Mengerikan yang Memaksa Anak-anak ke Kekerasan

// by retasan-news July 25, 2026 5 min read
Ilustrasi keamanan online untuk anak dan ekstremisme digital

Jaringan 764 adalah bagian dari ekosistem online yang terus berkembang yang mendorong anggota muda ke dalam tindakan brutal dan merendahkan. Didirikan oleh seorang remaja Texas, jaringan ini memiliki pelaku dan korban di puluhan negara dengan sedikitnya 295 penangkapan yang terkait dengan jaringan yang lebih luas yang dikenal sebagai The Com.

APA YANG TERJADI?

Pada akhir 2024, seorang remaja berusia 14 tahun di pinggiran kota Stockholm mendekati seorang pria berusia 80-an yang menggunakan walker dan menikamnya tiga kali di punggung. Video serangan tersebut di-streaming dan menyebar dengan cepat, memberi makan ekosistem online global yang secara aktif mendorong dan mengagungkan tindakan kekerasan dan merendahkan. Remaja tersebut diduga memiliki hubungan dengan jaringan yang dikenal sebagai 764. Kelompok semacam ini dikenal menargetkan anak muda dalam permainan termasuk Roblox dan Minecraft serta komunitas yang berjuang dengan kesehatan mental atau identitas seksual untuk ekstorsi online, memaksa mereka ke tindakan kekerasan dan self-harm.

Jaringan 764, didirikan oleh remaja Texas Bradley Cadenhead, hanyalah satu bagian dari ekosistem online yang terus berevolusi. Cadenhead kini menjalani hukuman 80 tahun di Amerika Serikat karena memiliki materi pelecehan seksual anak. Ada beberapa kasus yang saat ini berada di pengadilan di seluruh dunia dengan hubungan yang diduga dengan kelompok semacam ini. Catatan hukum dari banyak negara menunjukkan bahwa mereka sering merayakan kekerasan, manipulasi, dan bahaya demi kebahayaan itu sendiri, mengumpulkan catatan tindakan tersebut untuk mendapatkan notoriety dan kontrol. FBI menggunakan istilah nihilistic violent extremism untuk menggambarkan aktivitas ini, meskipun ada perdebatan tentang sebutan tersebut karena beberapa berpendapat bahwa istilah ini terlalu kabur.

DETAIL TEKNIS

Jaringan 764 dan kelompok terkait beroperasi melalui platform online seperti Discord, Telegram, dan dalam permainan video. Mereka menggunakan teknik grooming yang menargetkan anak muda yang rentan, memanfaatkan kekhawatiran mental health atau identitas seksual korban untuk mendapatkan kepercayaan. Setelah terikat, korban dipaksa melakukan tindakan self-harm, kekerasan, atau eksploitasi seksual sebagai syarat untuk mendapatkan status dalam grup atau untuk keluar dari penekanan. Materi yang dihasilkan kemudian digunakan untuk memperoleh clout atau social currency di dalam komunitas, dan dibagikan dalam “lore books” untuk victimisasi lebih lanjut oleh orang lain. Peneliti menemukan setidaknya 295 penangkapan yang terkait dengan jaringan The Com di 33 negara termasuk Australia, Selandia Baru, Swedia, Inggris, dan Amerika Serikat.

Komisaris federal polisi Australia Krissy Barrett menyatakan bahwa tren yang mengkhawatirkan adalah bagaimana korban menjadi pelaku untuk mencoba melarikan diri dari pengganggu online yang telah berteman dan menggroom mereka, lalu memaksa mereka untuk menyakiti diri sendiri. Peneliti seperti Marc-Andre Argentino mencatat bahwa ideologi dalam ruang ini dapat bersifat fluid, performative, dan terutama simbolik, di mana gambaran okultisme atau neo-Nazi berfungsi sebagai penanda keanggotaan grup daripada program politik yang koheren. Bjørn Ihler dari Revontulet menyatakan bahwa ini pada dasarnya adalah fenomena pemuda, dengan pemuda merekrut pemuda lain melalui server Discord dan platform chat.

DAMPAK TERHADAP INDONESIA

Indonesia memiliki populasi anak dan remaja yang sangat besar dengan penetrasi internet dan penggunaan media sosial yang sangat tinggi. Platform seperti Roblox, Discord, dan TikTok sangat populer di kalangan generasi muda Indonesia. Kurangnya literasi digital dan parental control yang memadai membuat anak-anak Indonesia rentan terhadap grooming dan ekstorsi online. Selain itu, stigma terhadap masalah kesehatan mental dan identitas seksual di Indonesia sering kali mencegah anak muda mencari bantuan dari orang dewasa yang tepercaya, membuat mereka lebih rentan terhadap jaringan online yang menawarkan penerimaan palsu. Kementerian Kominfo dan Kementerian PPPA belum memiliki program nasional yang komprehensif untuk mengatasi fenomena online extremism dan coercion yang menargetkan anak-anak di platform digital. Kurangnya koordinasi antar lembaga penegak hukum, penyedia platform, dan sektor pendidikan memperburuk masalah.

REKOMENDASI MITIGASI

Orang tua harus waspada terhadap tanda-tanda self-harm yang tiba-tiba, penarikan diri dari keluarga dan teman, serta perilaku rahasia tentang interaksi online. Platform media sosial dan game harus meningkatkan moderasi konten, deteksi grooming, dan pelaporan yang mudah diakses oleh anak-anak. Sekolah perlu mengintegrasikan literasi digital dan kesehatan mental dalam kurikulum untuk membantu anak-anak mengenali manipulasi online. Penegak hukum Indonesia harus meningkatkan kapasitas untuk menyelidiki kejahatan siber yang melibatkan anak-anak, termasuk ekstorsi digital dan coercion ke self-harm. Kolaborasi internasional dengan FBI, Interpol, dan platform global sangat penting karena jaringan ini bersifat lintas negara. Bagi penyedia platform, implementasi age verification yang lebih kuat dan pembatasan fitur direct message untuk pengguna di bawah umur tertentu dapat mengurangi attack surface bagi groomer.

Analisa Retasan

Fenomena jaringan 764 merepresentasikan evolusi kejahatan online dari eksploitasi finansial ke eksploitasi psikologis yang sistematis dan brutal. Secara teknis, jaringan ini tidak mengandalkan exploit software atau malware canggih; sebaliknya, mereka mengandalkan eksploitasi vulnerability manusia: kebutuhan anak muda akan penerimaan, ketakutan akan isolasi sosial, dan shame yang mencegah mereka mencari bantuan. Mekanisme “gamification of harm” yang digambarkan oleh peneliti Marc-Andre Argentino adalah teknik manipulasi yang sangat efektif karena mengubah kekerasan dan degradasi menjadi sistem poin dan status, yang familiar bagi anak-anak yang tumbuh dengan game online dan media sosial.

Perbandingan dengan fenomena historis seperti Blue Whale Challenge pada 2016 menunjukkan bahwa coercion online yang menargetkan anak-anak bukan fenomena baru, namun skala dan organisasi jaringan 764 jauh lebih besar dan terstruktur. Blue Whale Challenge sebagian besar beroperasi melalui individu atau kelompok kecil, sementara 764 adalah jaringan global dengan hierarki status, lore books, dan distribusi konten yang sistematis. Penggunaan platform seperti Discord dan Roblox sebagai vector recruitment menunjukkan bahwa penyerang memahami ekosistem digital anak-anak dan menyesuaikan taktik mereka untuk platform yang dianggap “aman” oleh orang tua.

Bagi Indonesia, ancaman ini sangat nyata mengingat populasi muda yang besar dan penetrasi internet yang tinggi. Namun, respons institusional masih sangat reaktif dan fragmentasi. Tidak ada hotline nasional yang terintegrasi untuk melaporkan grooming online, tidak ada program pelatihan khusus untuk polisi cybercrime yang menangani kasus anak, dan tidak ada kewajiban bagi platform untuk melaporkan aktivitas mencurigakan yang melibatkan anak-anak kepada otoritas. Kementerian PPPA, Kementerian Kominfo, dan Kepolisian perlu membentuk task force khusus untuk online child exploitation yang memiliki kewenangan lintas platform dan lintas yurisdiksi. Tanpa koordinasi ini, jaringan seperti 764 akan terus menemukan korban baru di kalangan anak-anak Indonesia yang rentan.

Sumber: The Guardian

Tags: Child Exploitation Extremism Online Safety Social Media
Share:

retasan-news

← Previous Model AI yang Tak Terkoreksi: Ketika Agen AI Menolak Rehabilitasi
Next → 1Password dan Anthropic Perkenalkan Framework Zero-Exposure untuk Agen AI

Artikel Terkait

Pemerintah India Blokir 3.718 Aplikasi untuk Memerangi Kejahatan Siber, Cegah Kerugian Rp 11.158 Crore

Pemerintah India Blokir 3.718 Aplikasi untuk Memerangi Kejahatan Siber, Cegah Kerugian Rp 11.158 Crore

August 12, 2026
Mengapa Skor Kematangan Keamanan Anda Sedang Membohongi Anda

Mengapa Skor Kematangan Keamanan Anda Sedang Membohongi Anda

August 10, 2026
American Binary: Mengapa Post-Quantum Sebagian Tetap Berarti Rentan

American Binary: Mengapa Post-Quantum Sebagian Tetap Berarti Rentan

July 25, 2026

> leave_comment_

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2026 Retasan | retasan.my.id

  • Kebijakan & Privasi
  • Kontak Retasan.id
  • Tentang Retasan.