Skip to content
[ root@retasan:~# Tuesday, Jul 14, 2026 ]

> Retasan_

// Portal Berita Keamanan Siber Terkini

  • Kebijakan & Privasi
  • Kontak Retasan.id
  • Tentang Retasan.
Malware Exploit Development Kebijakan Keamanan Cyberwarfare Tools Data Breach Iklan
Malware

Negosiator Ransomware Dihukum 70 Bulan Penjara karena Membantu Geng BlackCat

// by retasan-news July 14, 2026 2 min read

Ransomware Negotiator

Pengadilan AS menjatuhkan hukuman 70 bulan penjara kepada Angelo Martino, mantan negosiator ransomware yang secara rahasia membantu geng ransomware BlackCat (ALPHV) dalam memeras korbannya. Kasus ini menjadi preseden penting tentang batas legalitas profesi negosiasi ransomware.

Apa yang Terjadi?

Martino, yang seharusnya bertindak sebagai perantara yang membantu korban ransomware berunding dengan penyerang, ternyata bekerja secara diam-diam untuk kepentingan geng BlackCat. Ia menipu kliennya sendiri — perusahaan yang menyewa jasanya untuk berunding — dengan memberikan nasihat yang menguntungkan pihak penyerang.

Hal-hal yang dilakukan Martino:

  • Menyampaikan informasi rahasia klien kepada geng ransomware
  • Memberikan nasihat yang mendorong klien membayar tebusan lebih tinggi
  • Mengabaikan opsi pemulihan data yang tersedia demi pembayaran tebusan
  • Menerima komisi dari kedua belah pihak secara rahasia

Detil Teknis

  • Terdakwa: Angelo Martino, mantan negosiator ransomware
  • Hukuman: 70 bulan penjara (hampir 6 tahun)
  • Geng terkait: BlackCat/ALPHV
  • Kejahatan: Penipuan, konspirasi, membantu pemerasan
  • Modus: Menjadi “double agent” — berpura-pura membantu korban sambil bekerja untuk penyerang

Dampak terhadap Indonesia

Di Indonesia, jasa negosiasi ransomware masih dalam tahap awal pengembangan profesional. Kasus Martino menjadi peringatan bahwa profesi ini memiliki risiko hukum yang sangat tinggi jika tidak dikelola secara etis dan transparan. Organisasi Indonesia yang menjadi korban ransomware harus berhati-hati dalam memilih mitra negosiasi.

Analisa Retasan

Analisa: Kasus ini membuka mata tentang konflik kepentingan yang melekat dalam bisnis negosiasi ransomware. Ketika seseorang dibayar untuk mengakhiri serangan, tetapi juga mendapat keuntungan dari pembayaran tebusan, insentifnya menjadi sangat berbahaya. Indonesia perlu mulai mengatur profesi ini dan memastikan bahwa negosiator ransomware beroperasi dengan standar etis yang ketat.

Sumber: Habr.com

Tags: BlackCat Habr Hukum Negosiasi
Share:

retasan-news

← Previous Ransomware GodDamn Gunakan PoisonX untuk Butakan Software Keamanan
Next → Dampak Perang Siber terhadap Infrastruktur Energi: Pelajaran dari Konflik Rusia-Ukraina

Artikel Terkait

HalluSquatting: Serangan Baru Memanfaatkan Halusinasi AI Coding Assistant untuk Install Botnet Malware

HalluSquatting: Serangan Baru Memanfaatkan Halusinasi AI Coding Assistant untuk Install Botnet Malware

July 14, 2026
Glitch SPY: Android RAT Baru dengan 70+ Command yang Didistribusikan melalui Aplikasi Sewa Palsu Polandia

Glitch SPY: Android RAT Baru dengan 70+ Command yang Didistribusikan melalui Aplikasi Sewa Palsu Polandia

July 14, 2026
RedWing: Operasi Malware-as-a-Service Android yang Terhubung dengan Aktor Ancaman Rusia

RedWing: Operasi Malware-as-a-Service Android yang Terhubung dengan Aktor Ancaman Rusia

July 14, 2026

> leave_comment_

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2026 Retasan | retasan.id

  • Kebijakan & Privasi
  • Kontak Retasan.id
  • Tentang Retasan.